musim Taat…

September 15th, 2007 by riza-is-a-guru


Tiba-tiba Ramadhan telah tiba kembali
Tiba-tiba banyak hati yang terbuka
Tiba-tiba banyak orang yang sadar….
Kalau dirinya seorang Muslim ……….
Kalau dirinya banyak dosa ………… …
Kalau dirinya tanpa pegangan …………

Tiba-tiba masjid jadi lautan manusia
Tiba-tiba orang-orang banyak berdoa
Tiba-tiba yang datang ke masjid adalah orang asing
Tiba-tiba mereka menjelma menjadi sosok yang lain dari hari-hari biasa

Tiba-tiba banyak orang berjilbab
Tiba-tiba banyak orang mengaji
Tiba-tiba banyak orang bermurah hati
Tapi, tiba-tiba… ……… ……… ……..

Tiba saat akhir Ramadhan ………… .
Tiba usai akhir Ramadhan yang penuh berkah
Tiba-tiba banyak orang jadi bunglon, kulit berubah warna
Jamannya adalah sumbunya …………
Ia rela diperbudak dunia ………… ……
Masya Allah ………… ……… ………

Jilbab hanya topeng belaka
Mengaji hanya trend katanya
Bermurah hati hanya ria motifnya
Apalagi ke masjid ………… …..
Mumpung musim katanya ………… ……..
Masya Allah ………… ……… ……

Ya, Allah……. Aku berlindung kepada Mu
Jangan aku termasuk orang yang tiba-tiba taat ………
Jadikanlah amal ibadahku di bulan Ramadhan ……….
Membuat hidupku lebih baik dari tahun yang lalu
Dan jangan jadikan puasaku hanya sekedar menahan lapar dahaga
Sementara maknanya tidak kudapati ………… ……… ..

Ya, Allah ……. Semoga aku mampu menjalani training Akbar Mu
Ya, Allah……. . Semoga aku dapat naik tingkat pada training berikutnya
Sehingga dari waktu ke waktu hidupku tambah berarti ………… ……..
Dan aku pun siap,
jika tiba-tiba kau menjemputku ………… ……… ……

SELAMAT untuk Murid SMA 9 malang

June 15th, 2007 by riza-is-a-guru

Selamat Untuk Semua Murid SMA Negeri 9 Malang untuk 100% kelulusannnya.

Perjuangan masih panjang, jangan putus tengah jalan, buktiin kalau kalian adalah pribadi TANGGUH……………!!!!

Cinta Dan Perasaan

March 16th, 2007 by riza-is-a-guru

                                       

Cinta Dan Perasaan

Cinta dan perasaan adalah lautan yang sangat luas sekali, oleh karena itu orang dapat memahaminya dari sudut manapun ia suka, begitu juga dengan pacaran, karena pacaran menurut pekembangan dewasa ini juga bagian dari cinta, tapi islam punya karakter tersendiri dalam memahaminya, kalau cinta yang kita pahami adalah seperti yang digariskan oleh syariat, maka itu tidak dilarang. lantas bagaiamana perbedaan cinta kepada Allah, kepada Rasul dan kepada manusia?. berikut tahapan pemahaman cinta menurut islam:

1. Cinta pada allah memang harus dibedakan, cinta kepada Allah adalah pengorbanan, pengobanan akan terjadi jika ada kesatuan antara hati dan pikiran, cinta kepada rasul adalah mengikuti sunnahnya, sedang inti dari mengikuti adalah kepercayaan, cinta sesama manusia adalah saling menyayangi dan saling mengasihi, sedang inti dari rasa saling adalah kesamaan.
manusia diberi hati oleh Allah, hati itu adalah hak Allah, Allah akan merasa cemburu dan marah jika dihati manusia itu ada yang lain, itulah yang disebut Allah dengan syirik kepadaNya, dosa yang tentu tidak ada ampunan dari Allah.
tapi Allah juga memberi manusia pikiran, pikiran itu dianugrahkan kepada manusia, oleh karena itu sabda Rasul: "tidak sempurna iman seorang muslim kalau dia belum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri". cinta disini adalah rasa saling menyayangi dan saling mengasihi tersebut tentunya. Jadi cinta kepada makhluq adalah memikirkannya dan atau merasakannya.

2. Punya cita-cita Cita-cita suci yang ditunggu oleh setiap orang tua, boleh? mengapa tidak? malahan islam menganjurkan untuk menikah dengan terlebih dahulu berta’aruf (berkenalan), kadang kita berfikir masih terlalu dini untuk memikirkannya, tapi Allah berfirman: " hendaklah manusia itu memikirkan apa yang akan terjadi padanya besok" (faltandhur ma qaddamat lighad), besok bukan hanya hari sesudah hari ini, bulan depan, tahun depan, dan sepuluh tahun yang akan datang juga besok kan?.
Mengutip tulisan menurut seorang mufti besar Islam kontemporer Yusuf Qardhawi, dalam al fatawa jilid satu hal 625 edisi indonesia:
ia mengatakan: "sesungguhnya cinta mempunyai permulaan yang dapat dikuasai oleh yang mukallaf. Memandang, bercakap-cakap, menyampaikan salam, saling berkunjung, berkirim-kiriman surat dan bertemu, semuanya merupakan hal-hal yang berada dalam kemampuan seseorang untuk melakukan atau meninggalkannya, semua itu merupakan muaqaddimah atau permulaan rasa cinta".

3. Menjaga batasan syari’at. kalau ta’aruf dibiarkan begitu saja, tanpa terpisahnya antara hawa nafsunya dari kemauan buruknya, TANPA dan TIDAK dikendalikan oleh taqwa, maka ia akan mengalami pemerosotan aqidah, karena dalam hal cinta akan sangat mudah dipengaruhi oleh pikiran-pikiran setan yang tetap sedia menanti kesempatan lengah dari pelaku cinta ini, maka harus sangat hati-hati, karena kalau tidak maka ia akan makin berkubang dalam penyimpangannya dan tenggelam dalam urusannya, sehingga melupakan hak Allah sebagai pencipta cinta ini.
ketika nafsu sudah makin bertaut sedemikian hingga dengan perasaan dan sebagainya, maka akan sulit untuk meninggalkannya, dan apabila dia sudah berada dalam kondisi yang dia tidak sanggup lagi mengendalikannya, maka dia sendirilah yang membawa dirinya dalam posisi yang sulit, hingga tak mampu lagi untuk keluar dengan bersih lagi. adalah sangat wajar kalau mayoritas ulama mengharamkan cinta kepada yang tidak haq, karena begitu berat dan besarnya tanggung jawab yang dipikul, kesudahan yang mengerikan sekaligus menakutkan. sehingga bukan kebahagiaan yang kita akan dapatkan malahan penderitaan yang berkepanjangan.
namun tantangan zaman memang demikian beratnya, sehingga seorang muslim dituntut untuk lebih memperkuat ketahanan ruhiyah dan lebih memperkaya khazanah keilmuannya, serta pengetahuannya terhadap hakikat keislaman.
Begitu rasionalnya Islam mengatur, adalah untuk menjaga hak dan kewajiban masing-masing manusia, karena setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, yang membedakan disisi Allah adalah kadar keimanan dan ketaqwaan manusia itu kepada Allah SWT. Maka apakah yang kita ragukan?

Ternyataaa

March 11th, 2007 by riza-is-a-guru

Cuma Ingat LAA ILAAHA ILLALLAH saja tidak cukup, Mana Muhammadar Rasulullâhnya? Sudah Cukupkah aku mengikuti tata cara beliau?

Berfikir secara LAA ILAAHA ILLALLAH juga harus berpikir Muhammadar Rasulullâh.

Salah satunya selalu membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan, seperti ketika beliau berhadapan dengan kaum kafir.dan mendoakan mereka agar Allah membukakan mata hati mereka karena mereka masih bodoh dan tidak menyadari kesalahannya

Aku ingin LAA ILAAHA ILLALLAH tapi juga harus Muhammadar Rasulullâh.

Aku Ingin melupakan dunia tapi juga harus memenuhi hak orang lain, hak tubuhku, hak orang tuaku, hak teman-temanku, hak murid-muridku.

Shalawat aku selalu kumandangkan tapi aku kadang lupa mengikuti Muhammad SAW

Aku mungkin salah selama ini, aku mengatakan aku umatnya Muhammad SAW, tapi mengikuti aturan Nabi Ibrahim AS, Nabi Isa AS, atau bahkan mengikuti aturan Rasul dan Nabi yang tidak tertulis di Alquran, betapa nantinya aku akan kebingungan di akhirat, MasyaAllah, maafkan aku Ya Allah, Maafkan aku Ya Muhammad da Rasullah.

My Plan

March 9th, 2007 by riza-is-a-guru

                Plan Still a Plan

Semua harus direncanakan, bahkan 1 detik kedepan harus direncanakan.
Kemarin "dia" siap dengan keputusan Qta untuk merit, tapi tadi pagi dia bilang "Tahun depan aja ya?" Lah selama ini yang Qta bicarakan apa? katanya udah siap, katanya Lillahita’alla, kok jadi takut lagi? Kenapa "dia" tidak takut Allah? apa "dia" Gak sadar kalo selama ini udah ngelakuin dosa? Subhanallah………

G ada yang salah, kalau "dia" engga mau tahun ini, biar aja, Allah menjawab doaku selama ini. biar aja dehh….. Semua rencana Allah, mending aQ kehilangan "dia" daripada kehilangan Allah.

لاَ إِلهَ إِلاَّ الله

March 7th, 2007 by riza-is-a-guru

                                                    Tiada Tuhan selain Allah

Apakah sudah benar dalam hatiku ya Allah, LAA ILAAHA ILLALLAH selalu terucap dalam sholat ku, tapi sudah benarkah ya Allah


Ketika aku masih berpikir bahwa Komputer dan Internet dapat membuat aQ bahagia, bukankah aku telah lupa
LAA ILAAHA ILLALLAH……………..

Ketika hatiku tidak ikhlas saat Engkau memberi rizki sedikit padahal aku selalu meminta rizki yang barakah bukankah aku lupa LAA ILAAHA ILLALLAH

Ketika aku berpikir bahwa pernikahanku dengan "dia" akan membuat aku bahagia bukankah aku lupa LAA ILAAHA ILLALLAH

Ketika aku marah karena gajiku terlalu kecil dan tidak cukup untuk membeli secangkir kopi ekspresso di Pitstop, bukankah aku lupa LAA ILAAHA ILLALLAH

Ketika aku malas mengajar karena merasa gajiku tidak sepadan dengan kemampuanku bukankah aku lupa dangan LAA ILAAHA ILLALLAH

Ketika aku melihat gadget atau asesories mobil dan berpikir bahwa akan membuat aku senang apabila memilikinya bukankah aku lupa LAA ILAAHA ILLALLAH

Ketika aku dekat dengan "dia" bukankah aku lupa akan LAA ILAAHA ILLALLAH

Ketika aku jengkel dengan teman kerja karena dia tidak bisa menghargai aku bukankah aku lupa dengan LAA ILAAHA ILLALLAH

Masih, masih banyak hal lagi yang membuat aku lupa makna LAA ILAAHA ILLALLAH

Ya Allah, bersihkan hatiku dari penyakit hati, jauhkan aku dari kenikmatan dunia yang hanya maya, semu dan menipu, aku hanya ingin selalu dekat denganMu Ya Allah.

Ya Allah, jagalah semua yang aku sayangi, berikan mereka hal-hal terbaik Ya Allah…………………

Ya Allah, Terangkan hati manusia yang membenciku, jelaskan pada mereka bahwa aku cuman manusia yang ingin belajar menjadi benar.

Amien Ya Robballamin………….

ngeliat dari atas lewat http://wikimapia.org

February 17th, 2007 by riza-is-a-guru

Mau tahu lokasi-lokasi FavoritQ ??

Nee Rumah arjo :

Rumah Sumpil :

Tempat kerja sekarang di SMAN 9 Malang :

Rumahnya ……
Kalo pengen Ngupi ama nyang laen :
atoo ngupi yang murah di :

Kalo Ngaji di senee neeh :

Kalo Nginap ya disinii neeh :

Kalo Ke Bandung biasanya di sini neeh

Kalo Ke Jakarta ya ke senee

Kapan yaa ada panggilan ke sini ?

February 13th, 2007 by riza-is-a-guru

           Surat Sayang dari Allah SWT


MQ Pagi Radio RRI Pro2 105 FM

Selasa, 16 Januari 2007 - Jam 05.00 - 06.00 WIB
by : Danida

Saat engkau bangun pagi
  AKU memandangmu
  Dan berharap engkau berbicara kepada-Ku
  Walau hanya sepatah kata
  Meminta pendapat-Ku

Atau bersyukur kepada-Ku
  Atas segala sesuatu hal yang indah
  Yang terjadi dalam hidupmu
  Dihari ini atau hari kemarin
  Tapi AKU melihat engkau begitu sibuk
  Mempersiapkan diri untuk pergi bekerja

    AKU kembali menanti
    Saat engkau sedang bersiap
     AKU tahu
     Akan ada sedikit waktu bagimu
     Untuk berhenti dan menyapa-Ku
     Tapi engkau terlalu sibuk

Disuatu tempat
Engkau duduk disebuah kursi
Selama lima belas menit
Tanpa melakukan apapun
Kemudian AKU melihat engkau
Menggerakkan kakimu   

    AKU berpikir
     Engkau akan berbicara kepada-Ku
     Tetapi engkau berlari ke telepon
     Dan menghubungi seseorang teman
     Untuk mendengarkan kabar terbaru

AKU melihatmu
Ketika engkau pergi bekerja
Dan AKU menanti dengan sabar
Sepanjang hari
Dengan semua kegiatanmu

     AKU berpikir
     Engkau terlalu sibuk
     Untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku
     Sebelum  makan siang

AKU melihatmu
Memandang sekeliling
Mungkin engkau merasa malu
Untuk berbicara kepada-Ku

     Itulah sebabnya
     Mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu
     Untuk  memandang tiga atau empat meja
     Disekitarmu
     Dan melihat beberapa temanmu
     Berbicara dan menyebut nama-Ku
     Dengan lembut

Sebelum menyantap rezeki yang AKU berikan
Tapi engkau tidak melakukannya
Masih ada waktu yang tersisa
Dan AKU berharap
Engkau akan berbicara kepada-Ku

     Meskipun saat engkau pulang kerumah
     Terlihat Seakan-akan banyak hal yang harus engkau kerjakan
     Sesudah tugasmu selesai
     Engkau menyalakan TV
     Engkau menghabiskan banyak waktu
     Setiap hari didepannya tanpa memikirkan apapun

Hanya menikmati acara yang ditampilkan
Kembali AKU menanti dengan sabar
Saat engkau menonton TV
Dan menikmati makananmu
Tapi kembali engkau tak berbicara kepada-Ku
Saat tidur,Kupikir engkau merasa lelah
Dengan mengucapkan selamat malam kepada keluargamu
Engkau melompat ke tempat tidur
Dan tertidur…..

     Tanpa sepatah katapun
     Menyebut nama-Ku
     Kau sebut, kau menyadari
     Bahwa AKU selalu hadir untukmu

AKU telah bersabar lebih lama dari yang engkau sadari
AKU bahkan ingin mengajarkan kepadamu
Bagaimana sabar terhadap orang lain
AKU menyayangimu
Setiap hari

AKU menantikan sepatah kata
Do’a, pikiran, atau syukur dari hatimu
Keesokan harinya……
Engkau bangun kembali
Dan kembali AKU menanti
Dengan penuh kasih

     Bahwa hari ini
     Engkau akan memberikan sedikit waktu
     Untuk menyapa-Ku

Tapi yang kutunggu
Tak kunjung tiba
Tak juga engkau menyapa-Ku
Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya
Dan Shubuh kembali
Engkau masih tak perduli kepada-Ku
Mengacuhkan-Ku

     Tak ada sepatah kata
     Tak ada seucap do’a
     Tak ada rasa
     Tak ada harapan dan keinginan
     Untuk bersujud kepada-Ku

Apa salah-Ku padamu, wahai ummat-Ku?
Rezeki yang AKU limpahkan
Kesehatan yang AKU berikan
Harta yang AKU relakan
Makanan yang AKU hidangkan
Anak-anak yang Ku-rahmatkan

     Apakah semua itu
     Tidak membuatmu ingat kepada-Ku?
     Percayalah……
     AKU selalu mengasihimu
     Dan AKU tetap berharap
     Suatu saat kau akan menyapa-Ku
     Memohon perlindungan-Ku
     Bersujud kepada-Ku

Yang selalu menyertaimu setiap saat
Yang selalu menyertaimu setiap saat
Yang selalu menyertaimu setiap saat

Ketika sebuah prestasi dipertanyakan

January 31st, 2007 by riza-is-a-guru

Berapa pendapatanQ sebulan ?
dari SMAN 9 Malang :
-gaji tetap Rp. 295.000
-Tunjangan Rp. 115.000,-
Dari Kost-kostan di rumah :
- 6 x Rp. 120.000 = Rp. 720.000

Pengeluaran :
- Sepeda Motor Rp. 400.000
- Angsuran di skull Rp. 100.000
- Tabunganhari raya Rp.  90.000
- bensin 30 x Rp. 5000 = Rp. 150.000
- rokok 30 x Rp. 8000 = Rp.240.000
- lain - lain 30 x Rp. 5000 = Rp. 150.000
- PLN PDAM = Rp 300.000

ada minus Rp. 210.000

Darimana saya harus dapat yang Rp. 210.000 ?
Cuma rejeki tak terduga dari Allah, apa saya tidak perlu ngisi pulsa HP? beli baju?
Semua kembali kepada Allah. Bukan menyalahkan Allah atas rejeki saya sekarang ini, tapi cuma menyoroti minimnya gaji guru honorer saya. UMR di malang saja sudah Rp. 750.000 yang notabene setaraf dengan lulusan SMA.tapi semua kembali ke Allah, InsyaAllah akhir dari bayaran saya,Allah yang membayarkan, entah di dunia ini atau di akhirat nanti. Hasbunallah Wa’ ni Mall wakil Ni Mall maula Wa ni mal wakil

InsyaAllah anda dapat berserah diri padaNya

January 29th, 2007 by riza-is-a-guru

Golongan
Yang Selamat Dalam Islam: Golongan Mana?

takfir Kafir_3



Oleh Imam Suhadi,
Yayasan Paramartha.

GOLONGAN YANG SELAMAT DALAM AL-QUR’AN

Orang sekarang ini dengan mudah mengklaim golongan dan jamaahnya sebagai
golongan dan jamaah yang selamat. Selain pengikut jamaahnya adalah sesat dan
tidak selamat. Karena hal ini, banyak orang yang “kebingungan dalam beragama”,
dan sangat mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: “Siapakah
seseungguhnya golongan yang selamat itu?”

Dalam Surat al Fathihah, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa manusia
terbagi atas tiga golongan saja, yaitu:

1. Golongan yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
2. Golongan yang Dimurkai.
3. Golongan yang Sesat.

Mengacu kepada ayat tersebut sesungguhnya sangat jelas sekali, bahwa
golongan yang selamat adalah mereka yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
Mereka adalah orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta’ala, yang dijelaskan
dalam (QS 4:69), bahwa:

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: An-Nabiyyin,
Ash-Shiddiiqiin, Asy-Syuhadaa
(QS 57:19) dan Ash-Shalihiin (QS
19:9). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)”

Tapi pertanyaannya, di masa ini, kelompok yang manakah yang sedang berada di
atas Shirat Al-Mustaqiim itu? Kita akan membahas ini di akhir artikel.

SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Banyak orang menganggap bahwa Shiraath Al-Mustaqiim ini ‘abstrak’ dan hanya
akan dapat ditemui di akhirat. Dalam Al Qur’an Shiraath Al Mustaqiim dijelaskan
sebagai:

1. Ad-Diin (Agama) yang tegak

Ketika seorang beragama, dan dalam pelaksanaan agamanya ia belum berada di
atas Shirath Al Mustaqiim, sesungguhnya agamanya itu belum tegak
(hakiki).

“Dan apabila ia telah berada di atas Shirath Al Mustaqiim, maka
sesungguhnya diin dalam dirinya telah tegak.” (QS 6:161)

Shiraath akar katanya berarti tertelan (menurut Quraish
Shihaab), Al Mustaqiim berarti adalah orang yang berada dalam keadaan
istiqamah (mantap/konsisten). Artinya, orang yang berada di Shiraath Al
Mustaqiim
, adalah orang yang telah tertelan dalam keistiqamahan kepada
jalan Allah. Tidak akan lagi bergeser kepada kekufuran.

Orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim dijaga oleh Allah
Ta’ala dari mengarah kepada kesalahan, dimana penjagaannya bagaikan dipegangnya
ubun-ubun binatang melata. (lihat Q.S 11:56). Dan sesungguhnya Allah Ta’ala
yang menjaga Shiraath Al Mustaqiim (lihat Q.S

15:41

).

2. Jalan Orang yang Diberi Nikmat

Karena orang-orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim, dijaga
oleh Allah Ta’ala dari kesalahan, maka mereka inilah orang-orang yang diberi
nikmat. (Q.S 1:7)

Untuk itu nikmat disini bukanlah sekedar nimat kesehatan, nikmat harta
benda, dsb. Tetapi jauh lebih besar dari itu, adalah nikmat dijaga oleh Allah
Ta’ala dari segala kesalahan dan hidup bersama Allah Ta’ala, karena Allah
Ta’ala pun berada di atas Shiraath Al Mustaqiim (Q.S 11:56).

3. ‘Jalan’ Allah

Orang yang selamat hanyalah mereka yang berada di atas Shiraath al
Mustaqiim
. Shiraath al Mustaqiim inilah sesungguhnya merupakan
‘jalan’ Allah.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membuat
garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini Shiraath al Mustaqiim’.
Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini
adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di
dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,Dan bahwa ini adalah jalan-Ku
yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang
lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’
(QS
[6] : 153)” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)

MENUJU SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Untuk menuju Shiraath al Mustaqiim, Allah Ta’ala telah dengan jelas
menginformasikan kepada kita tentang prosesnya di al Qur’an. Media Allah Ta’ala
membimbing seorang manusia menuju Shiraath Al Mustaqiim adalah dengan
petunjuk-Nya.

Petunjuk Allah Ta’ala ada 2 (dua) jenis: (1) Petunjuk Umum dan (2) Petunjuk
Khusus.

Petunjuk Umum, adalah Al Qur’an yang merupakan petunjuk untuk
seluruh manusia. Sedangkan Petunjuk Khusus, adalah petunjuk yang Allah
Ta’ala turunkan kepada manusia secara individual, orang perseorangan langsung
ke dalam qalbunya.

Petunjuk khusus ini akan Allah Ta’ala turunkan apabila seorang manusia
menjalankan substansi nilai-nilai yang dipandu dalam Petunjuk Umum.
Tahapan-tahapan ini dijelaskan dalam ayat berikut:

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke Subulussalam, (jalan-jalan keselamatan) dan (dengan
kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada
cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke Shiraath
al Mustaqiim.
” (Q.S. 5:16)

731b

Petunjuk langsung ke qalb

Sayangnya kebanyakan manusia –karena ia tidak merasakannya- memungkiri bahwa
sesungguhnya manusia dapat menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala melalui
qalb-nya. Mereka menganggap bahwa yang bisa menerima petunjuk langsung
dari Allah Ta’ala hanyalah para Nabi, dan hal itu telah tertutup dengan
khatamnya para Nabi. Padahal ayat-ayatnya sudah demikian jelas di al Qur’an.

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk
langsung kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Q.
S. 64:11)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh,
mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya.”
(Q.S. 10:9)

Dan sesungguhnya apabila kita tidak termasuk dalam golongan yang mendapat
petunjuk Allah kepada Shiraath al Mustaqiim, niscaya kita hanya akan
termasuk ke dalam golongan yang sesat.

“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku
termasuk orang-orang yang sesat.”
(Q.S. 6:77)

Untuk terpimpin kepada Shiraath Al Mustaqiim, syaratnya adalah mampu
mendapat petunjuk langsung
dari Allah ta’ala, dan syarat untuk mendapat
petunjuk langsung itu adalah iman.

Namun iman yang bagaimana? Apakah iman yang sekedar definisi-definisi dan
dalil-dalil? Jawabannya adalah “Bukan!”.

Iman yang menjadi syarat seorang mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala, adalah
iman yang berupa cahaya (nur iman), yang Allah Ta’ala anugerahkan
kepada manusia sebagai rahmat (pertolongan)-Nya untuk mensucikan qalb-nya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari
kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).”
(Q.S. 2:257)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah
kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia
mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 57:28)

Dan bagaimana sesungguhnya untuk mendapatkan cahaya iman tersebut? Allah
berkata, syaratnya adalah Islam.

“Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada
mereka):” Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami islam’, karena iman itu
belum masuk ke dalam qalbumu.” (Q.S. 49:14)

Dari ayat di atas, dapat kita cermati bahwa mereka yang ber-islam tidak
serta merta langsung menjadi beriman. Mereka yang Islam bisa jadi belum
beriman, karena Islam dan Iman merupakan dua tahap yang
berkelanjutan/sekuensial.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah qalb-nya (untuk)
ber-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu
hatinya)?”
(QS. 39:22)

Namun Islam, bukanlah sekedar “formal Islam”- nya, tetapi lebih dalam dari
itu adalah menjalankan substansinya, yaitu: penyerahan diri kepada Allah.
(Catatan: Islam secara dasar kata berarti berserah diri). Dan inilah
sesungguuhnya substansi dasar ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam al Qur’an.

PESAN UTAMA AJARAN ILAHIYYAH

Allah Ta’ala mengutus setiap utusannya, sejak zaman Adam as sampai Nabi
Muhammad SAW, adalah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.
Lihatlah ayat-ayat Al Qur’an berikut ini:

Nuh A.S

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah
sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku
(Nuh A.S) disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang
berserah
diri
(kepada-Nya)”. (Q.S. 10:72).

Ibrahim A.S

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan
tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi
berserah diri (kepada
Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”.
(Q.S. 3:67).

Musa A.S

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka
bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang
berserah
diri
“. (Q.S. 10:84).

Ya’qub A.S

“Dan Ya’qub berkata:”Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk
dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang
berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun
daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah;
kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang
bertawakal
berserah diri“. (Q.S. 12:67).

Sulaiman A.S

“Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim
terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah,
Rabb semesta alam”
. (Q.S. 27:44).

Isa A.S

“Aku (Isa A.S) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang
Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan
adalah aku menjadi saksi
(syahiidan) terhadap mereka”. (Q.S.5
:117).

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia:”Siapakah
yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah”

Para


hawariyyin menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada
Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berserah
diri.
” (Q.S. 3:52).

Muhammad SAW

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian
itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku (Muhammad SAW)adalah orang yang
pertama-tama
menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:162-163)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang
pertama kali menyerah diri (kepada Allah)”.
(Q.S. 6:14)

Penyerahan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dimana seluruh aspek
kehidupan diperuntukkan untuk Allah (yang mempunyai 99 asma) semata, merupakan
pesan utama ajaran ilahiyah. Sehingga disampaikan oleh para utusan- Nya setiap
zaman.

Berserah Diri dengan tulus ikhlas dalam setiap aspek adalah kondisi dimana
seseorang bersedia diatur sepenuhnya oleh Allah (menjadi budak Allah Ta’ala),
tidak mengatur dirinya sendiri dengan hawa nafsu dan syahwatnya. Ajaran (Ad-
Diin) yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah Ad-Diin Berserah Diri kepada Allah
Ta’ala untuk itulah dinamakan Ad-Diin Al Islam. Ikhlas menyerahkan diri kepada
Allah dan muhsin, itulah Ad-Diin yang paling baik.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan
dirinya
kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti
agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”
(Q.S. 4:125)

Berserah Diri kepada Allah Ta’ala dan muhsin, maka ia telah berpegang teguh
kepada Allah Ta’ala.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang
dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang kokoh.Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
(Q.S. 31:22)

Keberserahan diri kepada Allah Ta’ala ditopang oleh empat sendi utama,
yaitu: Sabar, Syukur, Tawakal dan Ikhlas. Bagaimana mungkin
seorang akan menjadi seorang muslim yang utuh, apabila qalbunya tiada pernah
bersabar atas segala masalah hidupnya? Selalu mengeluh dan tiada pernah
bersyukur terhadap segala hal yang Allah berikan kepadanya?

GOLONGAN YANG SELAMAT MENURUT HADITS RASULULLAH

Dari Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash r.a :

“Telah bersabda Rasulullah SAW : ” Sungguh-sungguh akan datang atas
umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana sepasang
sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani
Israil orang yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada diumatku ini
yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72
golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk
neraka kecuali satu golongan yang selamat.

Para


shahabat bertanya: “Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?” Rasulullah
menjawab: ” yaitu golongan yang mengikuti Aku ada padanya pada hari ini dan
yang mengikuti para Sahabatku.”

Hadits ini diriwayatkan lengkap oleh Tirmidzi, diterangkan pula oleh Hakim
juz yang pertama, Ibnu Wadhoh, Imam Al-Azurri dalam kitabnya As- Syari’ah, Ibnu
Nasr Al-Marwaji dalam kitabnya As- Sunnah Al-Laalikai, Abdul Qahir Al-Baghdadi
dalam kitabnya Al-Faruq bainal Firaq) Hadits ini dikatakan oleh Tirmidzi HASAN
GHARIB, Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi bukan karena secara sanad shahih,
tetapi menghasankan karena Syawahidnya yang banyak. Hadits ini HASAN.

Dari Sahabat Abu Hurairah r.a : “Yahudi telah berpecah menjadi 71
golongan, dan Nasrani telah berpecah menjadi 72 golongan, dan akan berpecah
umatku menjadi 73 golongan.”
(Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu
Hibban, Al-Azzuri, Hakim, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Abi Asim)

Dan Tirmidzi berkata hadits ini HASAN SHAHIH. Hakim berkata SOHIHUN ala
Shahih Muslim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi.

Dari Sahabat Auf Bin Malik r.a : “Yahudi berpecah menjadi 71 golongan, 1
masuk sorga dan 70 masuk neraka. Dan Nasrani berpecah menjadi 72 golongan, 71
masuk neraka dan 1 masuk sorga, Dan demi yang diri Muhammad ada ditangan-Nya,
sesungguhnya umatku sungguh-sungguh akan berpecah menjadi 73 golongan, 1 di
sorga dan 72 di neraka; kemudian sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapa mereka
yang selalu satu itu yang masuk dalam surga (Wahidatun Fil Jannah)?, dijawab
oleh Nabi SAW, yaitu
‘Al-Jama’ah‘” (Ibnu Majah, Ibnu Abi Asim dalam
As-Sunnah, Imam Al-Laalikai)

Hadits ini di SHAHIH-kan oleh para ulama.

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at,
sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup
(lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena
itu berpengang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang
(mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan
hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara
yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap
yang sesat adalah tempatnya di dalam Neraka).”
(H. R. Nasa’i dan
At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih).

Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah
berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini
(Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua
golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu
Al-Jama’ah.
(HR. Ahmad dan yang lainya. Al-Hafidz menggolongkannya hadits hasan)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang
aku dan para shahabatku meniti di atasnya.”
(HR. Ahmad dan yang lainya. dan
dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219).

Dari keterangan diatas, pola apa yang terlihat? Di masa yahudi, dari 71
golongan, 70 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa berikutnya, Nasrani, dari
72 golongan, 71 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa selanjutnya, dari umat
Rasul SAW terbagi menjadi 73 golongan, 72 tidak selamat dan 1 selamat.
Lihatlah, betapa di setiap pergantian ajaran kenabian selalu bertambah satu
golongan yang tidak selamat, sedangkan yang selamat tetap satu saja.

732b

Golongan yang selamat menurut hadits Rasululah.

Sesungguhnya satu golongan yang selamat sejak dulu Yahudi, Nasrani dan Umat
Muhammad SAW adalah sama. Tidak berubah. Merekalah orang-orang yang
mendapat petunjuk Allah langsung ke Qalbu
, sehingga terpimpin ke Shiraath
Al Mustaqiim
.

Kenapa setiap pergantian ajaran Nabi bertambah satu golongan? Karena satu
golongan itu adalah golongan yang hanya menjadi merasa bangga dengan formal
golongannya, tetapi substansi ajaran agama Ilahi dilupakannya atau tidak
dikenalnya.

Satu golongan yang selamat adalah Al Jamaah, merekalah yang
Rasulullah SAW dan sahabat berada di atasnya. Secara eksplisit dalam Al Qur’an
dikatakan merekalah orang yang berada di atas Shiraath Al Mustaqiim,
siapapun ia dan darimana pun asal (nama) jamaahnya.

Yang selamat bukanlah nama sebuah jamaah, apakah tasawuf, tarekat A, tarekat
B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU,
atau apapun namanya. Siapapun orangnya, apakah berasal dari Tasawuf, tarekat A,
tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy,
Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kalaulah ia mendapat petunjuk langsung dari
Allah dan terpimpin ke Shirath Al Mustaqiim, maka dia termasuk dalam Al
Jamaah
.

733b

Al-Jama’ah

Karakter mereka sejak zaman Adam, Yakub, Musa, Isa, Muhammad adalah sama.
Merekalah yang mencintai Allah lebih dari dunia. Merekalah orang-orang yang
mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya (bahkan mampu menggembalakan
hawa nafsu dan syahwat dirinya dalam ber-’agama’).

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri
dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”.
(Q.S. 79:40-41)

Merekalah orang mati dalam keadaan berserah diri, al muslimuun).

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah
memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
berserah
diri
(kepada Allah)”. (Q.S. 2:132)

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan
kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan
anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb
mereka. Kami tidak membedabedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-
Nya-lah kami menyerahkan diri
. (Q.S. 3:84)